Thursday, March 27, 2008

About The Past

Several times over the past few months.. I've been thingking about the past, it's just ran accross my mind... makes me happy or even makes me crying sometimes

Appreciation for what one gets in life is, I guess, an age thing. I remember me whining and crying about everything that I wasn't getting or that I couldn't get only a few years back. now, that understanding and gratefulness for all that I do have has managed to settle in to a good level (if not for its entirety).

Few questions have appeared inside my mind... should I cry about the past? can I do anything about past?

Robin Sharma on his book "Who Will Cry When You Die" wrote : "every second you dwell on the past, you steal from your future. every minute you spend focusing on your problems, you take away from finding the solutions."

A few people struck my mind as I read those lines. fortunately, they know who they are, and one of them is going to be reading this at some point. I have heard people say that "we dont think about the past. we live for today." I wish it were that easy. there are always something from the past threatening to take over your mind and not leave until it has sapped it of its reasoning powers. the time taken to regenerate is precious time wasted, as is stated in those lines up there.

One thing that I can do is to train the mind to slowly letting go of the past but not to forget. the simple reason of thought being that nothing can be done about it.
The faster I accept and appreciate what happened, the faster I'll come to respect it and learn from it. the moment you learn from it, I'll not go back to it, because that's how the mind works. It's mightbe simply like we don't found ourself going back to that cookbook, or TV manual? why? because we already know how it works. why will we waste our time learning the same thing all over again...

Is it the same way how everything else works too ??


Friday, March 21, 2008

Inna Ma'al-'usri Yusra

I’m sitting here @ LCCT-KLIA Airport Kuala Lumpur, laptop on my lap, my fingers are waiting the idea coming down from the brain..... attemping to write something while waiting the flight to Bangkok..

Thinking of the old days, the days of present and the days to come…

Though it's still very early to count the number of difficulties that I've been suffered with, but it's been existed and passed through my life. Well ,yes, it was somehow makes my life quite glooming, but on the other hand it makes my life more colorful as well.

Verily, I realize that life by its very nature consists of various cycles, as Allah has stated ‘every hardship is followed by ease’.

Life by its nature is a rotation, ‘what goes around comes around’, ‘life and death’, and if we look further into the beauty of Allah’s creation we see more and more examples of this ‘the rotation of the sun around the moon’, ‘the orbit of the planets’, ‘the water cycle’, and really the list is endless.

There was a time when only the old days mattered, I was constantly looking over my shoulder, constantly remembering the joys, the smiles and the tears of my past, always falling back over the cliff of despair, never looking forward to see the light ahead.

Then came the days of present, the days which to a certain extent I still reside within, having moved on from my past, now only living one day at a time. Treating every day as its own test, with no care or concern for what lay ahead.

And now, after several times, again, I have started recently to look forward, planning for my future, preparing for the tests that lay ahead, whilst struggling with the trials of today.

If I look back through these three phases of my life, which I honestly believe were inevitable and could not have been avoided, does one phase bring more smiles to my face than another…. yes, I myself would not have believed that it ever could be true, but looking forward towards the light, basking in the rays of my future as they slowly appear over the horizon, I am possibly happier than I have ever been.

As I look towards my future, I am careful not to delete my past, for in amongst the vast pages that many would see destroyed lies a legacy, a lesson or two that maybe I have missed on my journey, a lesson or two for those who I have passed by, and maybe also for those whom I have picked up on the way.

Life is as strange as it is natural, life is as happy as it is sad, life requires even the Bedouin to call the desert his home, for there is no escape from life save death, and only Allah knows when the cycle ends.

What I believe is a thing that has been mentioned in Quran (94:5) :
Inna ma'al-'usri yusra - with every hardship comes ease! -- no sacrifice, no victory.

Tuesday, March 18, 2008

Menistakan Rokok

Nun jau disana ada sebuah hari yang istimewa..
hari dimana segala macam iklan rokok, dalam bentuk poster, media cetak, dan media elektronik, tidak dianggap pantas lagi secara hukum. Waktunya tiba untuk menistakan pembodohan massa, dan mengusir jauh dari pandangan mata kita.

Di mana? Di Inggris, tentu saja. (http://prakashdaniel.vox.com/library/posts/tags/ciggarates/)

Masih jauh buat mengharapkan tindakan cerdas dari pemerintah seperti ini bisa diberlakukan di Indonesia.

Tapi sementara itu ... maju tak gentar ...

Say No to Ciggy, Say No Smoking

Thursday, August 16, 2007

Kesepian dan Kesendirian

Kesepian adalah dimana tidak ada orang2 untuk diajak berkomunikasi pada tingkat apa saja. Sedangkan kesendirian adalah tidak adanya seseorang untuk diajak berkomunikasi dengan tingkat kesadaran yang sama dengan kita.

Bentuk kesendirian juga bagian dari mereka yang telah menempuh perjalanan jauh dari pertumbuhan spiritual. Suatu beban yang rasanya tidak dapat dipikul, kecuali dengan keyakinan bahwa sekalipun demikian, secara berimbang hubungan dengan Tuhan semakin lebih dekat, sehingga melalui pertumbuhan kesadaran, timbul suatu kegembiraan yang cukup untuk menopang kita.

Dalam The Labyrinth of Solitude (Labirin Kesepian), disebutkan sepi adalah lapisan akhir dari kondisi manusia. Kita arahkan semua usaha untuk menghapus kesepian. Merasakan kesendirian mempunyai arti ganda, di satu pihak, menyadari diri kita, dan di lain pihak, ingin membuang diri kita.

Kesepian merupakan ujian dan sebuah penyaringan, yang pada akhirnya penderitaan dan kegelisahan akan lenyap.

Kesempurnaan dan pertemuan, yang merupakan ketenangan dan kebahagiaan serta perdamaian kembali dengan dunia, menunggu di akhir labirin kesepian.

Rasa sepi selain memang hal yang tidak terhindarkan dalam kehidupan manusia, dapat sekaligus menyumbang dalam pembentukan karakter dalam ketegaran eksistensi kita.

Seni kehidupan terletak pada kemampuan mengatasi labirin rasa sepi yang tak terhindarkan , di tengah kehadiran orang lain. Di tengah kerumunan orang atau di tengah hiruk pikuknya pesta maupun heningnya suasana jalan2 pagi, kita merasa sepi dan menyadari hal itu bahkan ketika sedang men-diskusikannya dengan orang lain. Seperti kita, yang bersangkutan pun akhirnya ikut merasakan kesepian.

Yang harus diupayakan adalah mengubah kesepian menjadi sebuah pertemuan, monolog menjadi dialog, titik tunggal menjadi jagad raya yang luas.

Dengan demikian, kita akan dapat menemukan dimensi sosial dalam kehidupan pribadi yang kita miliki. Kita akan menggapai garis lingkaran tanpa meninggalkan pusat lingkaran. Kita dapat memperluas cakrawala tanpa kehilangan perspektif kesatuan.

Kita dapat menyadarkan pikiran dan tindakan bahwa untuk menjadi diri sendiri, kita harus menemui orang lain dan tumbuh secara penuh. Kita membutuhkan kehadiran orang lain yang juga tumbuh di sekitar dan bersama kita.

Seringkali orang malahan meluapkan perhatian pada kehidupan binatang, mereka berkata : 'Lihat, anjing saya itu tidak pernah membuat saya kecewa, tetapi manusia sering melakukannya. 'Melalui kalimatnya ia membenarkan keterikatan yang terjalin antara dirinya dan anjingnya, serta sikapnya dalam menjauhi sesama.

Sungguh suatu keadaan yang menyedihkan, karena hal ini tidak dapat membenarkan pengasingan yang disengaja oleh seseorang dalam bentuk pengucilan afeksi. Jalan keluar bukanlah dengan menarik diri dari sesama lalu meng-akrab-i anjing, namun dengan mengolah penyebab timbulnya konflik.

Melihat kekurangan diri sendiri -- yang menyebabkan timbulnya reaksi yang kurang bersahabat dari orang lain -- dan menerima batasan2 kenyataan. Menyadari bahwa walau bagaimanapun juga, menjalin hubungan dengan makhluk yang se-akal jauh lebih bermanfaat. Kesempatan untuk dapat bertukar pikiran dan berbagi perasaan jauh lebih bernilai dibanding dekapan binatang yang paling setia sekalipun.

Selamat Mengatasi Labirin Kesepian !

Thursday, July 26, 2007

Aku Gundah...

Aku di akhir dari satu babak perjalanan hidupku..
Bersiap-siap menyudahinya untuk kemudian memulai suatu babak baru
Harusnya aku riang gembira

tapi alih-alih gembira, hatiku menjerit... ??
Semakin sedikit aku tersenyum
dan semakin sering aku bermuram durja..

Pikiranku cemas..
Jantungku berdegup..
Hatiku berteriak....

Ingin ku-akhiri babak ini dengan lembut dan indah.
ku-siapkan semuanya untuk itu..
tapi, ada saja yang jadi perintang
yang tak pernah mengizinkanku untuk berkonsentrasi..

mungkin begitulah adanya hidup..
mungkin yang kubutuhkan adalah dorongan moril..
Ya rabbi..

Hamba mohon petunjuk..
Hamba mohon bimbingan..

Jadilah Zeldi Yang Jenaka, Taqwa dan Baik Hati

"Jadilah Zeldi yang jenaka, taqwa, dan baik hati."

begitulah Ayahku sekian belas tahun lalu, sewaktu aku masih dalam tahap pembentukan personality (sekarang tahap apa yach?). Ayah suka menulis kalimat-kalimat ajaib di dalam surat-suratnya, dan beberapa di antaranya sampai terbayang di luar kepala.... Mirip titah, yang memang tidak pernah dituntut, tapi menarik untuk dikejar. Dan cukup menarik, bahwa disaat orang tua lain menginginkan anaknya jadi pintar (biar dapat nilai tinggi, mudah mendapatkan pekerjaan, dan cepat kaya), Ayah-ku malah menginginkan punya anak yang Jenaka, Taqwa, dan Baik-hati. Masih penasaran aku dengan urutan yang nggak lazim ini. Tidak seperti orang yang demen kategori dan kaku dalam birokrasi kan? --

mungkin berangkat dari kesadarannya bahwa anaknya adalah orang yg tidak pandai dan sgt tidak bisa berjenaka ria...

Beberapa tahun kemudian,setelah Ayah menghadap sang Khalik, waktu tekanan demi tekanan menempa diri, aku suka berbisik: "Yah, jenakanya udah sedikit lumayan. Taqwa dengan Baik-Hati mudah2n bisa menyusul." mudah2an beliau mendengar di alam sana.

Ayah sebenernya sedikit suka berfilsafat, dan pernah jadi musuh yang menarik dalam diskusi filsafat kecil2an( waktu2 itu aku nggak kenal nama Derrida atau semacamnya -- Nietzsche udah yang paling modern).

Kalau difilsafat-kan, sifat jenaka sebenernya mengacu kesukaan meletakkan pikiran dan perilaku secara
out of frame. Dan yang menarik adalah bahwa diskursus kita, baik secara personal maupun kolektif, memang patut dipelesetkan. Dan dari situ kita melakukan penilaian kembali atas nilai-nilai. Barulah kita boleh berani memilih nilai yang jadi nilai kita dan kemudian tegak mengayuh hidup di atasnya. Dan pada sesi ini, baru kita jadi umat yang bertaqwa (bukan sekedar mengikut).

Dan baik hati? Ntar ah. Taqwa juga belum :)

Tuesday, October 18, 2005

Buat Sahabatku

BUAT SAHABATKU........

Sahabat, hari baru menjelang larut. mungkin kau sudah memadamkan lampu dan tertidur pulas...tapi aku masih mencoba mencari kata-kata yang sudi untuk mewakili ungkapkan kegelisahanku...pelupuk mataku tak berhasil menemukan cara untuk tidur. Aku gundah teramat dalam.

Ada perasaan yang mengganjal, mencari telinga yang sudi mendengar. Namun, entah harus berawal dari kata jenis apa untuk memulai. Pun begitu, Aku coba ajukan satu pertanyaan. Apa sebetulnya rencana Tuhan untukku, kamu? Kita?

Jujur saja, agak cemas--sekaligus mungkin malu, kututurkan gelisah ini. Cemas dan malu, keduanya beranjak dari sesuatu yang monolit.
Bahwa, mungkin bincang-bincang ini jadi tak sederhana--atau sebaliknya, terlalu naif. Malu, barangkali diakibatkan oleh rendah diri yang kronis. Sementara cemas, bisa jadi karena khawatir, kalau-kalau tanya ini justru menikam nyenyak tidurmu malam ini. Gundah. Ku tak mau itu menghantuimu, meskipun semata-mata dalam mimpi. Akupun tak yakin,mungkin karena semua itulah aku memilih diam.

Tapi, ijinkan aku lanjutkan. Sedikit saja, Sampai detik aku menuliskan surat ini, aku masih bertanya, Apa sebetulnya rencana Tuhan untukku,kamu? Kita?

Sahabat, Apakah kau cemas? Kalau pertanyaan itu kau balikkan padaku, akan kubilang, "Ya!" Sahabat, risau itu sejak lama membalut. Namun, Kecemasan itu sempat lenyap, Ketika kecemasan itu lenyap, ah..entahlah, Aku pun kurang yakin, lenyap kah atau hanya bersembunyi, namun setelah itu,pertanyaanku menjadi semakin pendek, Apa sebetulnya rencana Tuhan untukku? Tidak ada lagi pertanyaan tentang kamu atau kita.

Cukup lama pertanyaan itu lenyap, dan aku tak pernah bertanya kemana lenyapnya, sampai kemudian tiba-tiba dia kembali menampakkan dirinya, dan pertanyaan itu pun muncul kembali,lebih tegas bahkan. Apa sebetulnya rencana Tuhan untukKU, KAMU? KITA? tapi kali ini entah kenapa hatiku menyarankan tuk menunggu jawaban Tuhan, sampai akhir Ramadhan katanya.

Sahabat,Hari beranjak semakin larut. Bila kau sempat membaca surat ini,mungkin kau kecewa. Bila ada kecewa, maafkan aku. Tapi, mengapa ada setitik air di sudut mata indah itu? Jangan sedih. Tegarkan aku sahabat, karena, aku akan bisa tegar dalam cengkraman dan gandengan tangan yang kuat . Aku tetap sahabatmu, dan kamu sahabatku. Someone who really loves you, never leaves you. Kalimat terakhir itu, aku kutip dari novel Harry Potter. Diucapkan Sirius Black yang melarikan diri dari Azbakan demi membongkar muslihat kematian ayah Harry Potter. Expecto Patronum! Ridicculus! Reducto!

Ada benarnya juga si penyihir itu.

Dan kau, Sahabatku?

Ah, sudahlah. Selamat tidur....


Gombak Kuala-Lumpur, Malam Gerhana Bulan (14 Ramadhan 1425H),
Sahabatmu

Thursday, October 10, 2002

Happy Birthday to Me (and the others)

ya!!! Happy birthday to us... happy birthday to us... happy birthday, happy birthday, happy birthday to us... Hari ini ada 1 orang lagi yang ultahnya sama-sama aku. Ampon (T.Reza) adek sepupuku.

Nostalgia lagi. Hari ini 2 taon yang lalu, siang-siang abis istirahat kedua, kuliah Model & Simulasi-nya bu Leony yang imut2, aku sukses bobo' dengan manisnya (penyakit tidur itu sampai sekarang pun belum hilang) di bangku belakang. Tau-tau disampingku udah berdiri seorang yang imut2 membangunkanku sambil menjulurkan tangan dengan spidol ke arahku dan nyuruh aku ke depan kelas buat ngejelasin lg apa yang udah dia cuap2 ke seisi kelas, minus aku tentunya....... Sukses bikin aku bangun dengan tergagap-gagap.. Lha wong lagi enak-enaknya mimpi jé, ujug-ujug njedhul sesosok imut2 itu. Well that was pretty sweet :)

Dan ngomong-ngomong tentang mimpi, tadi pagi aku tidur nyenyak banget. Tapi trus bang zoel sms aku, dan di tengah sadarku aku mimpi disms sama mas itu... mimpi dia ngasih selamat juga via sms ^^;; Sebenernya dalam mimpi itu aku dah ngerasa lagi mimpi, soalnya aku tau mas itu nggak punya hp. Yah, dasar mimpi. Begitu bangun haruus balik ke dunia nyata...
Hari ini telpon rumah dan hp saya sibuk... Maklum seleb *selebar pintu*

oia, ada tiga sms masuk ke HP T189 Motorolaku,+6281xxxxyy nomor ini aku kenal karena lgs keluar namanya di hpku adekku tersayang ngucapain "HAPPY BIRTHDAY ........", tapi 2 nomer lagi aku nggak kenal : 08122788843 dan 08122788293, dua-duanya ngucapin selamat ultah. Ada yang tau itu nomernya siapa?